Jumat, 10 April 2015

Review Film Cinta Tapi Beda



Cinta Memang Buta
 
by : Aziz SMS


Film Cinta Tapi Beda di sutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Film ini dibintangi oleh Agni Pratistha berperan sebagai Diana, Reza Nangin sebagai Cahyo, dan Choky Sitohang sebagai Oka.

Cahyo, cowok keren asal Yogja yang bekerja sebagai chef di Jakarta. Ia anak pasangan Fadholi dan Munawaroh, keluarga muslim yang taat beribadah. Cahyo berusaha lepas dari kesedihan setelah di tinggal selingkuh oleh kekasihnya, Mitha.

Diana, gadis asal Padang. Perempuan berparas Indonesia, mahasiswi jurusan seni tari. Ia tinggal bersama om dan tantenya di Jakarta. Keluarga Diana penganut Katolik yang taat. Cahyo dan Diana bertemu di pertunjukan tari daerah Jakarta. Yang di ambil di atas adalah kita mampu mempertahankan budaya sendiri dengan seni tari. 

Mereka memutuskan berpacaran walaupun berbeda keyakinan. Mereka bahkan serius melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan. Diana was-was ketika Cahyo mengajaknya menemui orang tuanya. Ibu Cahyo bisa memahami cinta anaknya, tapi tidak Pak Fadholi. Sampai kapan pun Pak Fadholi tidak akan merestui Cahyo. Bila Cahyo memaksa, Pak Fadholi memilih memutus ikatan tali keluarga. Ternyata tidak mudah bagi Cahyo dan Diana menjalani cinta beda keyakinan. Bermakna bahwa walaupun agama mereka berbeda, namun tetap tidak bisa merubah cinta mereka. 

Ibu Diana juga keberatan dengan pilihan putrinya. Kakak-kakak Diana, termasuk om dan tantenya, telah meninggalkan keyakinan mereka. Ibu Diana memaksa Diana mengikuti kehendaknya. Itu sebabnya, Diana akhirnya memilih kembali ke Padang dan menerima perjodohan dengan Dokter Oka, lelaki pilihan Ibunya dan se-agama. Ia coba tutup hatinya untuk Cahyo. Di maknai bahwa Ibu dari Diana tetap mempertahankan agama mereka (Katolik), maka dari itu ibunya Diana menolak Cahyo. 

Cahyo melewati masa terburuk dalam hidupnya. Cahyo berpendapat bahwa Diana tak ada bedanya dengan Mitha yang lari ke pelukan laki-laki lain. Di Padang, Diana berusaha mencintai Oka, dan Oka berusaha membantunya melupakan Cahyo. yang bisa di ambil adalah anak yang taat kepada Ibunya meskipun itu terpaksa.



Kekurangan dari film ini banyak hal-hal yang tidak sesuai dengan adat Minangkabau sendiri. Seperti ajaran adat Minangkabau yang kebanyakan islam. Di sini di jelaskan bahwa banyak masakan haram yang di larang islam namun di tayangkan di Minangkabau. Seperti daging babi rica-rica. Seharusnya tidak terlalu mendominasi agama Katolik. Takutnya masyarakat Minangkabau yang melihat akan tersinggung.

Apalagi masalah toleransi. Di film ini toleransi bisa di bilang toleransi yang memaksa. Contohnya, kalo Diana itu Katolik yang bertoleran, seharusnya ia tidak memaksa Cahyo untuk memakan daging babi rica-rica. Film ini toleransinya tidak seimbang, banyak agama islam dan budaya Minang yang di hina. Seharusnya film ini tidak perlu terlalu melatarbelakangi budaya Minangkabau.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari teks tersebut yaitu, cinta tidak memandang perbedaan, baik itu budaya, ras, maupun agama. Dan takkan pernah padam walaupun banyak yang berusaha menghalangi cinta mereka. Namun itu sangat menyimpang dari agama masing-masing. Bisa di bilang menuhankan cinta.

Selasa, 03 Maret 2015

Review Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck




Keteguhan prinsip
by:AzizSMS



Film Van Der Wijck yang di sutradarai oleh Sunil Soeraya dan pemainnya antara lain Herjunot Ali sebagai Zainuddin, Reza Rahardian sebagai Aziz, Pevita Pearce sebagai Hayati, Randy D’Massive sebagai Muluk, serta di proseduri oleh Ram Soeraya.
Film ini terinspirasi dari novel yang ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka. Cerita yang mengisahkan persoalan adat yang berlaku di Minangkabau dan perbedaan latar belakang sosial yang menghalangi hubungan cinta sepasang kekasih hingga berakhir dengan kematian.

Seorang pemuda yatim piatu bernama Zainuddin. Ia telah lama ingin menjumpai tanah asal ayahnya di Batipuh. Namun, kedatangan Zainuddin tidak mendapatkan sambutan baik di tengah-tengah struktur masyarakat yang bernasabkan kepada ibu itu. Ia dianggap tidak memiliki pertalian darah lagi dengan keluarganya di Minangkabau, karena meskipun berayah Minang, ibunya berasal dari Bugis. Akibatnya, ia merasa terasing dan melalui surat-surat ia kerap mencurahkan kesedihannya kepada Hayati, perempuan keturunan bangsawan Minang yang prihatin terhadapnya. Dari cerita di atas bisa di maknai bahwa zaman dahulu di Minang sangat menghormati dan menghargai adat istiadat dari kebudayaan tersebut.

Setelah Zainuddin dan Hayati sama-sama mulai jatuh cinta, Zainuddin memutuskan pindah ke Padang Panjang karena mamak Hayati memintanya untuk keluar dari Batipuh. Sebelum berpisah, Hayati sempat berjanji kepada Zainuddin untuk selalu setia. Sewaktu Hayati berkunjung ke Padang Panjang karena hendak menjumpai Zainuddin, Hayati sempat menginap di rumah sahabatnya, Khadijah. Namun, sekembali dari Padang Panjang, Hayati dihadapkan oleh permintaan keluarganya yang telah sepakat untuk menerima pinangan Aziz, kakak Khadijah. Aziz, yang murni keturunan Minang dan berasal dari keluarga terpandang, lebih disukai keluarga Hayati daripada Zainuddin. Meskipun masih mencintai Zainuddin, Hayati akhirnya terpaksa menerima dinikahkan dengan Aziz. Dengan pengingkaran Hayati terhadap janjinya kepada Zainuddin, menunjukkan bahwa Hayati tidak punya prinsip.


 Ketika Zainuddin tahu bahwa Hayati telah menikah dengan Aziz, ia pun jatuh sakit selama 2 bulan. Zainuddin hanya berbaring di tempat tidur tanpa berbicara maupun makan. Namun setelah ia terasingkan di tanah ayahnya dan kehilangana seorang wanita yang di cintainya, itu tidak membuat Zainuddin jatuh selamanya. Bahkan membuat ia bangkit untuk membuka lembaran baru. Itu tandanya Zainuddin seorang pemuda yang pandai ber-move on dari segala masalah yang di laluinya. Patut untuk di contoh sikapnya.

Faktor yang membuat ia bangkit lagi adalah bang Muluk anak dari bibinya. Dengan kata-kata motivasi dari bang Muluk telah membuat Zainuddin sadar dan berusaha untuk melupakan masa lalunya. Zainuddin pun merantau untuk melupakan kenangan di tanah Minang dan memulai bisnin baru sebagai penulis yang di bantu bang Muluk. Akhirnya bang Muluk menjadi sahabat Zainuddin selama hidupnya. Sikap yang bisa di ambil adalah persahabatan. Menunjukkan bahwa persahabatan sejati itu ada di saat senang maupun sedih.

Setelah sekian lama merantau dari Batavia hingga ke Surabaya. Akhirnya Zainuddin bersama bang Muluk menjadi orang sukses dari novel karangannya yang berjudul “Teroesir”. Namun sebaliknya, Aziz bersama Hayati telah jatuh miskin akibat hutang dari Aziz yang tidak bisa di lunasi. Rumah dan perhiasan semua di sita pihak penagih. Di saat mereka bingung untuk mencari tempat tinggal, Hayati dan Aziz mempunyai ide untuk menginap sementara di rumah Zainuddin yang bersamaan di Surabaya. Walaupun mereka merasa malu akan itu, mereka tidak punya pilihan lain. Zainuddin pun dengan senang hati membuka rumahnya untuk mereka seakan telah melupakan kenangan buruk di waktu dulu. Kita bisa mengambil makna dari Zainuddin yang selalu baik, pemaaf, penolong, dan renda hati.

Sayang, film ini tidak sesuai dengan judul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Sebab dari keseluruhan cerita, tidak banyak penekanan cerita tentang tenggelamnya kapal. Justru melenceng jauh dari cerita kapal menjadi cerita cinta dramatis. Serta alur yang terlalu cepat, agak membingungkan banyak penonton. Contohnya, saat Hayati memberikan selendangnya ke Zainuddin. Tiba-tiba hilang begitu saja selendangnya.

Namun, film ini tetap saja film yang bagus untuk di tonton. Karena banyak nilai moral yang bisa di peroleh. Bukan hanya nilai moralnya, pengefekan warna di film menambahkan suasana kesan tahun 1930-an.

Dari uraian di atas, dapat di simpulkan bahwa film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” mengajarkan kita untuk hidup berprinsip, bersahabat, bercinta, dan pastinya sikap pantang menyerah untuk selalu bangkit ketika kita terjatuh. Setiap perjalanan hidup kita akan selalu menemui banyak masalah. Kita hanya perlu berpikir positif dan mencoba untuk bangkit. Karena mencoba lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa sama sekali.